Menjalankan bisnis sering kali dihadapkan pada tantangan yang sama, yaitu memperkirakan permintaan pelanggan dengan tepat.
Terlalu banyak stok bisa menyebabkan kerugian karena barang tidak terjual, sementara stok yang terlalu sedikit berpotensi membuat pelanggan kecewa.
Karena itu, banyak pelaku usaha mulai menerapkan sistem pre-order atau PO untuk mengelola penjualan dengan lebih efisien.
Strategi ini tidak hanya membantu mengurangi risiko stok berlebih, tetapi juga memberikan kepastian permintaan sebelum proses produksi atau penyediaan barang dilakukan.
Sistem ini semakin populer di berbagai industri, terutama bisnis kuliner dan ritel yang membutuhkan perencanaan bahan baku serta inventaris yang lebih akurat.
Lalu, sebenarnya pre order adalah apa, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja manfaatnya bagi bisnis? Simak pembahasannya berikut ini.
Apa Itu Pre-Order (PO)?
Pre order adalah sistem pemesanan produk yang dilakukan pelanggan sebelum barang tersedia atau sebelum proses produksi selesai.
Dalam sistem ini, pelanggan melakukan pemesanan terlebih dahulu, kemudian bisnis akan memproduksi atau menyiapkan produk sesuai jumlah pesanan yang masuk.
Secara sederhana, arti pre order adalah membeli produk dengan sistem pesan terlebih dahulu dan menerima barang pada waktu yang telah ditentukan oleh penjual.
Umumnya, pelanggan akan diminta melakukan pembayaran penuh atau membayar uang muka sebagai tanda jadi.
Berbeda dengan produk ready stock yang bisa langsung dibeli dan dikirim, sistem PO membutuhkan waktu tunggu karena produk belum tersedia saat transaksi dilakukan.
Dalam praktiknya, pre-order adalah strategi yang banyak digunakan untuk produk edisi terbatas, menu musiman, hampers, makanan khusus acara tertentu, produk custom, hingga peluncuran produk baru.
Dengan cara ini, bisnis dapat mengetahui jumlah permintaan pasar sebelum mengeluarkan biaya produksi yang besar.
Keuntungan Sistem Pre-Order
Bagi bisnis kuliner maupun ritel, sistem pre-order menawarkan berbagai keuntungan yang dapat membantu operasional berjalan lebih efisien.
Berikut beberapa diantaranya:
1. Mengurangi Risiko Stok Berlebih
Salah satu keuntungan terbesar dari sistem PO adalah bisnis hanya memproduksi atau menyediakan barang sesuai jumlah pesanan.
Hal ini membantu mengurangi risiko produk tidak terjual dan menumpuk di gudang.
Dalam bisnis F&B, strategi ini sangat bermanfaat karena bahan makanan memiliki masa simpan terbatas.
Dengan jumlah pesanan yang sudah diketahui, pembelian bahan baku menjadi lebih terukur.
2. Membantu Mengelola Arus Kas
Pembayaran yang diterima di awal dapat membantu bisnis memperoleh modal untuk membeli bahan baku atau memulai proses produksi. Dengan begitu, kebutuhan modal kerja menjadi lebih ringan.
3. Memudahkan Perencanaan Produksi
Karena jumlah pesanan sudah diketahui sejak awal, tim operasional dapat menyusun jadwal produksi dengan lebih baik. Risiko kekurangan bahan baku atau kelebihan kapasitas produksi juga dapat diminimalkan.
4. Meningkatkan Antusiasme Pelanggan
Sistem PO sering digunakan untuk menciptakan eksklusivitas. Misalnya, restoran membuka pre-order hampers Lebaran dengan kuota terbatas atau toko ritel meluncurkan produk edisi khusus.
Strategi ini dapat memicu rasa penasaran dan mendorong pelanggan untuk segera melakukan pemesanan.
5. Memberikan Data Permintaan yang Lebih Akurat
Data pesanan yang terkumpul selama periode PO dapat menjadi sumber informasi berharga bagi bisnis. Kamu dapat mengetahui produk yang paling diminati dan menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan di masa mendatang.
Baca juga: Rahasia Restoran Ramai Pesanan: Integrasi Order Online ke Google Maps
Kekurangan dan Tantangan Sistem PO
Meski menawarkan banyak manfaat, sistem PO juga memiliki beberapa tantangan yang perlu dikelola dengan baik. Berikut beberapa diantaranya:
1. Waktu Tunggu yang Lebih Lama
Karena produk belum tersedia saat pemesanan dilakukan, pelanggan harus menunggu hingga proses produksi dan pengiriman selesai. Jika waktu tunggu terlalu lama, minat pelanggan bisa menurun.
2. Risiko Keterlambatan Produksi
Keterlambatan dari supplier atau kendala operasional dapat mengganggu jadwal pengiriman yang sudah dijanjikan. Hal ini berpotensi menurunkan tingkat kepuasan pelanggan.
3. Menuntut Komunikasi yang Transparan
Pelanggan perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai jadwal produksi, estimasi pengiriman, dan status pesanan. Kurangnya komunikasi dapat memicu komplain.
4. Kualitas Produk Harus Konsisten
Pelanggan yang sudah membayar dan menunggu tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap produk yang diterima. Jika kualitas tidak sesuai harapan, reputasi bisnis bisa terdampak.
Karena itu, keberhasilan sistem PO tidak hanya bergantung pada jumlah pesanan, tetapi juga pada kemampuan bisnis menjaga kualitas layanan secara konsisten.
Cara Kerja Sistem Pre-Order yang Efektif

Sumber: magnific.com
Agar sistem PO berjalan lancar, bisnis perlu menerapkan alur kerja yang jelas dan terstruktur. Berikut cara kerja sistem PO yang efektif:
1. Menawarkan Produk
Langkah pertama adalah memperkenalkan produk kepada pelanggan melalui media sosial, website, marketplace, atau aplikasi pemesanan. Informasi yang ditampilkan harus lengkap, mulai dari deskripsi produk, harga, periode PO, hingga estimasi pengiriman.
2. Mengumpulkan Pesanan dan Pembayaran
Pelanggan melakukan pemesanan sesuai ketentuan yang berlaku. Bisnis dapat menerapkan pembayaran penuh atau uang muka tergantung kebutuhan operasional.
3. Melakukan Produksi atau Persiapan Produk
Setelah periode PO berakhir, bisnis mulai menghitung total pesanan dan menyiapkan kebutuhan produksi. Pada tahap ini, perencanaan bahan baku menjadi sangat penting.
4. Mengirimkan Produk
Produk yang sudah selesai diproduksi kemudian dikemas dan dikirim kepada pelanggan sesuai jadwal yang telah dijanjikan.
5. Melakukan Evaluasi
Setelah seluruh pesanan selesai diproses, bisnis perlu mengevaluasi hasil program PO. Data penjualan, umpan balik pelanggan, dan efektivitas operasional dapat menjadi bahan perbaikan untuk program berikutnya.
Contoh Penerapan Pre-Order dalam Bisnis Kuliner (F&B)
Sistem PO sudah banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman karena mampu membantu mengontrol biaya produksi serta mengurangi food waste.
Salah satu contoh yang paling sering ditemui adalah pre-order hampers hari raya. Banyak toko kue membuka pemesanan beberapa minggu sebelum Lebaran atau Natal agar dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku dengan lebih akurat.
Contoh lainnya adalah menu spesial mingguan atau makanan premium yang membutuhkan proses memasak lebih lama.
Dengan sistem PO, dapur dapat mempersiapkan bahan sesuai jumlah pesanan sehingga proses produksi menjadi lebih efisien.
Bisnis katering juga sering menggunakan sistem ini untuk menerima pesanan dalam jumlah besar.
Karena jumlah porsi sudah diketahui sebelumnya, proses pengadaan bahan dan penjadwalan produksi menjadi lebih mudah dilakukan.
Selain itu, restoran dapat memanfaatkan sistem PO untuk peluncuran menu baru guna mengukur minat pasar sebelum menu tersebut dijual secara reguler.
Baca juga: 5 Faktor Layanan Pesan Antar Makanan Makin Menjamur
FAQ Seputar Sistem Pre-Order
1. Apa arti pre order?
Arti pre order adalah sistem pemesanan produk sebelum barang tersedia atau sebelum proses produksi selesai dilakukan.
2. Apa perbedaan pre-order dan ready stock?
Pre-order dilakukan sebelum barang tersedia, sedangkan ready stock berarti produk sudah tersedia dan dapat langsung dikirim.
3. Apakah pelanggan harus membayar di awal?
Tergantung kebijakan bisnis. Beberapa bisnis meminta pembayaran penuh, sementara yang lain hanya meminta uang muka.
4. Apakah sistem PO cocok untuk bisnis kuliner?
Ya. Sistem ini sangat cocok untuk hampers, katering, menu musiman, dan produk makanan yang diproduksi berdasarkan pesanan.
5. Bagaimana cara mengurangi risiko keterlambatan PO?
Pastikan jadwal produksi realistis, gunakan supplier terpercaya, dan berikan informasi perkembangan pesanan secara berkala kepada pelanggan.
Kesimpulan
Sistem pre-order merupakan strategi yang efektif untuk membantu bisnis mengelola stok, meningkatkan efisiensi produksi, dan mengurangi risiko kerugian akibat produk yang tidak terjual.
Dengan perencanaan yang baik, komunikasi yang transparan, serta pengelolaan operasional yang terstruktur, sistem ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan profitabilitas bisnis F&B maupun ritel.
Agar pengelolaan pre-order semakin mudah, kamu bisa memanfaatkan ekosistem digital terintegrasi dari ESB. Mulai dari sistem POS, ERP, kiosk, sistem pemesanan makanan online, manajemen supply chain, hingga sistem manajemen antrean pelanggan tersedia dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
ESB POS juga telah terintegrasi dengan Kitchen Display System (KDS) yang membantu tim dapur menerima dan memproses pesanan lebih cepat dan akurat.
Hubungi tim ESB sekarang dan temukan solusi digital yang tepat untuk membantu bisnis kuliner kamu tumbuh lebih efisien dan berkelanjutan.
