SHARE

Contoh Positioning Produk Makanan dan Strategi Jitu Memenangkan Pasar

Sovia
Contoh Positioning Produk Makanan

Menjalankan bisnis kuliner bukan cuma soal rasa yang enak. Banyak brand dengan menu lezat tetap sulit berkembang karena tidak memiliki posisi yang jelas di benak pelanggan. 

Di tengah persaingan yang semakin padat, memahami contoh positioning produk makanan menjadi langkah penting agar brand tidak sekadar hadir, tetapi benar-benar diingat.

Dalam artikel ini, kita bakal membahas secara lengkap mulai dari pengertian positioning, contoh segmentasi targeting positioning produk makanan, hingga strategi konkret yang bisa langsung diterapkan dalam bisnis FnB.

Apa Itu Positioning?

Positioning adalah strategi untuk menentukan bagaimana sebuah produk ingin dikenal dan diingat oleh pelanggan. 

Dalam bisnis makanan, positioning menjawab satu pertanyaan penting, yaitu ketika orang memikirkan kategori tertentu, apakah brand kamu langsung terlintas di pikiran mereka?

Positioning bukan hanya soal rasa yang enak. Ia berkaitan dengan persepsi menyeluruh, mulai dari kualitas, harga, konsep, hingga pengalaman saat membeli. 

Misalnya, ada brand yang ingin dikenal sebagai makanan sehat, ada yang ingin menjadi pilihan hemat untuk keluarga, ada juga yang ingin tampil sebagai brand premium dengan pengalaman eksklusif.

Tanpa positioning yang jelas, produk makanan hanya akan menjadi “salah satu dari banyak pilihan” di pasar. Konsumen mungkin pernah mencoba, tetapi tidak memiliki alasan kuat untuk kembali. 

Sebaliknya, ketika positioning kuat dan konsisten, brand akan lebih mudah diingat, direkomendasikan, dan dipilih kembali.

Apa yang Dimaksud dengan Positioning Produk Makanan?

Positioning produk makanan adalah strategi untuk menciptakan citra unik dan bernilai di benak konsumen dibandingkan produk sejenis di pasar. 

Positioning tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga menyangkut persepsi kualitas, harga, pengalaman, hingga nilai emosional yang melekat pada brand.

1. Menciptakan Persepsi yang Berbeda

Positioning dimulai dari kemampuan brand dalam membangun persepsi yang berbeda di benak konsumen. 

Perbedaan ini bisa ditonjolkan melalui penggunaan bahan organik yang lebih sehat, menghadirkan rasa autentik tradisional yang kuat, menawarkan harga terjangkau untuk menjangkau pasar luas, atau justru mengusung konsep premium dengan kualitas eksklusif.

Persepsi yang dibangun secara konsisten inilah yang kemudian membentuk identitas brand dan membuatnya lebih mudah dikenali.

2. Menonjolkan Keunggulan Produk

Setiap produk makanan memiliki keunggulan tertentu, entah dari segi rasa, kualitas bahan, porsi, kemasan, atau konsep penyajian.

Positioning yang efektif mampu menyoroti keunggulan tersebut secara jelas sehingga konsumen memahami alasan utama memilih produk tersebut.

Ketika keunggulan dikomunikasikan dengan tepat, brand akan lebih mudah membedakan diri dari kompetitor.

3. Menyesuaikan dengan Preferensi Konsumen

Positioning yang kuat selalu berangkat dari pemahaman mendalam terhadap target pasar.

Setiap segmen memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari makanan sehat rendah kalori, menu praktis untuk keluarga sibuk, hingga produk kekinian untuk generasi muda.

Dengan memahami preferensi ini, brand dapat menyesuaikan produk dan pesan komunikasi agar lebih relevan.

4. Komunikasi yang Konsisten

Strategi positioning harus tercermin dalam seluruh elemen bisnis, mulai dari desain kemasan, harga, konsep outlet, pelayanan, hingga konten media sosial. 

Konsistensi pesan akan memperkuat persepsi dan membangun kepercayaan pelanggan. Jika pesan berubah-ubah, brand akan sulit membentuk identitas yang kuat.

5. Evaluasi dan Penyesuaian Secara Berkala

Industri makanan bergerak cepat mengikuti tren dan perubahan selera. Oleh karena itu, positioning perlu dievaluasi secara rutin berdasarkan data penjualan, ulasan pelanggan, dan dinamika pasar. 

Brand yang adaptif akan lebih mampu mempertahankan relevansi dan daya saing.

Baca juga: Advertising Adalah Cara Jitu Menarik Pelanggan, Begini Caranya!

Contoh Segmentasi Targeting Positioning Produk Makanan

Sebelum menentukan positioning, penting memahami konsep STP yang terdiri dari segmentasi, targeting, dan positioning. Berikut contoh segmentasi targeting positioning produk makanan yang bisa dijadikan referensi.

1. Segmentasi

Segmentasi adalah proses membagi pasar ke dalam kelompok berdasarkan karakteristik tertentu seperti usia, gaya hidup, pendapatan, lokasi, atau perilaku konsumsi.

Misalnya, sebuah brand minuman sehat membagi pasar menjadi mahasiswa, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga. Setiap kelompok memiliki kebutuhan dan kebiasaan konsumsi berbeda.

2. Targeting

Setelah pasar dibagi, langkah berikutnya adalah memilih segmen yang paling potensial. 

Contohnya, brand minuman sehat tadi memilih pekerja kantoran usia 22–35 tahun yang memiliki gaya hidup aktif, peduli kesehatan, tetapi memiliki waktu terbatas untuk menyiapkan makanan sehat.

3. Positioning

Tahap terakhir adalah menentukan citra yang ingin dibangun. Dalam contoh tersebut, brand memposisikan diri sebagai “minuman sehat praktis untuk profesional sibuk.” 

Pesan ini kemudian diperkuat melalui kemasan modern, distribusi di area perkantoran, serta kampanye digital yang relevan dengan gaya hidup target pasar.

Pilar Strategi Positioning Produk Makanan

Pilar Strategi Positioning Produk Makanan

Sumber: freepik.com

Agar positioning berjalan efektif, ada tiga pilar utama yang perlu diperhatikan.

1. Channel

Channel merupakan titik interaksi antara brand dan pelanggan. Saluran ini bisa berupa outlet fisik, marketplace makanan, aplikasi pesan antar, maupun media sosial.

Melalui channel, brand dapat memahami perilaku pembelian, mendapatkan ulasan pelanggan, dan mengumpulkan data penting untuk memperkuat strategi positioning.

2. Customers

Memahami pelanggan adalah inti dari positioning. Brand perlu mengetahui kebutuhan, daya beli, kebiasaan konsumsi, serta alasan pembelian.

Misalnya, keluarga cenderung mencari produk aman dan ekonomis, sedangkan generasi muda lebih tertarik pada konsep unik dan tampilan estetik.

3. Competitors

Analisis kompetitor membantu melihat posisi brand di pasar. Dengan memahami kekuatan dan kelemahan pesaing, brand bisa menemukan celah diferensiasi.

Produk yang unik dan sulit ditiru akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun positioning yang kuat.

Contoh Positioning Produk Makanan yang Sukses

Berikut beberapa contoh positioning produk makanan yang berhasil di Indonesia.

1. Aqua

Aqua adalah contoh positioning produk yang sangat kuat di Indonesia karena identik dengan air mineral berkualitas dan terpercaya.

Konsistensi komunikasi serta distribusi yang luas membuat namanya melekat di benak masyarakat hingga sering digunakan sebagai sebutan umum untuk air mineral, meskipun mereknya berbeda.

Hal ini menunjukkan bagaimana positioning yang tepat mampu menjadikan sebuah brand sebagai top of mind dalam kategorinya.

2. Indomie

Indomie memposisikan diri sebagai mie instan yang praktis, lezat, dan mudah ditemukan di mana saja.

Variasi rasa yang luas dan harga terjangkau membuatnya menjadi pilihan utama ketika konsumen membutuhkan solusi makan cepat tanpa ribet.

3. Sari Roti

Sari Roti dikenal sebagai roti higienis dan berkualitas. Brand ini membangun citra melalui produksi modern, distribusi luas, serta komitmen terhadap kesegaran produk. 

Positioning tersebut menciptakan rasa percaya di kalangan keluarga Indonesia.

Tantangan dalam Positioning Produk Makanan

Melakukan positioning produk makanan bukan sekadar menentukan slogan atau memilih target pasar. Dalam praktiknya, ada berbagai tantangan yang perlu dihadapi secara strategis agar brand tetap relevan dan dipercaya.

1. Persaingan yang Ketat

Industri makanan dipenuhi banyak pemain dengan konsep serupa, sehingga brand perlu benar-benar memiliki pembeda yang jelas.

2. Perubahan Tren Cepat

Tren makanan bisa berubah dalam hitungan bulan. Brand harus cepat membaca perubahan ini agar tidak tertinggal.

3. Keterbatasan Sumber Daya

Modal promosi dan operasional sering menjadi tantangan, terutama bagi UMKM yang baru berkembang.

4. Konsistensi Komunikasi

Pesan yang tidak konsisten dapat melemahkan citra brand dan membingungkan pelanggan.

5. Respons Publik

Ulasan negatif atau isu tertentu dapat memengaruhi persepsi pasar, sehingga manajemen reputasi sangat penting.

Strategi Praktis Membangun Positioning Produk Makanan

Agar positioning tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, berikut strategi yang lebih aplikatif dan bisa langsung diterapkan dalam bisnis kuliner.

1. Identifikasi Keunggulan Utama Secara Spesifik

Temukan nilai unik yang benar-benar membedakan produk dari kompetitor. 

Hindari klaim umum seperti “enak” atau “berkualitas,” dan fokus pada keunggulan yang konkret seperti bahan premium, resep khas, atau konsep sehat. 

Diferensiasi yang jelas akan memudahkan brand membangun persepsi kuat di benak pelanggan.

2. Fokus pada Segmen yang Paling Potensial

Daripada menargetkan semua orang, lebih efektif jika brand fokus pada segmen yang paling sesuai dengan karakter produk. Dengan target yang jelas, strategi komunikasi dan promosi menjadi lebih terarah dan relevan.

3. Tentukan Harga yang Mendukung Positioning

Harga adalah bagian dari strategi positioning. Brand premium membutuhkan harga yang mencerminkan kualitas, sementara brand ekonomis harus tetap kompetitif. 

Keselarasan antara harga dan nilai yang ditawarkan akan memperkuat citra brand.

4. Bangun Pengalaman Pelanggan yang Konsisten

Positioning tidak hanya dibentuk lewat promosi, tetapi juga melalui pengalaman pelanggan, mulai dari pelayanan, kebersihan, hingga konsistensi rasa. Pengalaman yang stabil akan memperkuat citra dan mendorong loyalitas.

5. Manfaatkan Data untuk Evaluasi

Data penjualan dan ulasan pelanggan bisa menjadi dasar evaluasi strategi. Dengan analisis rutin, brand dapat menyesuaikan langkah tanpa kehilangan arah positioning yang sudah dibangun.

Baca juga: Pentingnya Website Bisnis FNB untuk Scale Up Bisnis

Frequently Asked Question Seputar Positioning Produk Makanan

1. Apakah UMKM perlu positioning produk?

Ya, karena positioning membantu brand kecil bersaing secara strategis meski memiliki sumber daya terbatas.

2. Apa perbedaan segmentasi dan positioning?

Segmentasi membagi pasar menjadi kelompok tertentu, sedangkan positioning menentukan citra produk dalam kelompok tersebut.

3. Apakah positioning bisa berubah?

Bisa, terutama jika terjadi perubahan tren pasar atau ekspansi target segmen.

4. Berapa lama membangun positioning yang kuat?

Positioning dibangun melalui konsistensi jangka panjang dan evaluasi berkelanjutan.

5. Apakah positioning hanya berlaku untuk brand besar?

Tidak. Positioning justru sangat penting bagi brand kecil atau UMKM agar memiliki pembeda yang jelas di pasar.

Kesimpulan

Memahami contoh positioning produk makanan serta segmentasi, targeting, dan positioning adalah langkah penting untuk membangun brand kuliner yang berkelanjutan. 

Positioning bukan sekadar slogan, tetapi strategi menyeluruh yang mencakup pemahaman pelanggan, analisis pesaing, komunikasi konsisten, dan evaluasi rutin agar brand tetap relevan di pasar yang kompetitif.

Agar positioning semakin optimal dan operasional lebih efisien, digitalisasi menjadi kunci. 

Ekosistem ESB melalui ESB POS dan solusi terintegrasinya membantu bisnis FnB mengelola penjualan, promosi, hingga operasional secara menyeluruh, sehingga brand tidak hanya kuat di benak pelanggan, tetapi juga solid dalam eksekusi.

Yuk, hubungi tim ESB dan konsultasikan bisnis kulinermu

SHARE
Promo Kami
Inspirasi Lainnya