reorder point bahan baku restoran
Business Mastery

Cara Menentukan Reorder Point Bahan Baku Restoran agar Tidak Kehabisan Stok

Tayang: 17 Oktober 2026Ditulis Oleh: Sovia

Kehabisan bahan baku saat restoran sedang ramai bisa menghambat operasional, memperlambat penyajian, bahkan membuat pelanggan tidak bisa memesan menu favoritnya. Sebaliknya, membeli terlalu banyak bahan juga berisiko meningkatkan biaya penyimpanan dan membuat bahan cepat rusak sebelum digunakan.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah menentukan reorder point (ROP) atau titik pemesanan ulang yang sesuai dengan kebutuhan operasional restoran. Namun, menentukan ROP tidak cukup hanya dengan menggunakan angka rata-rata pemakaian harian. Kamu juga perlu mempertimbangkan perubahan permintaan, ketepatan waktu pengiriman supplier, dan karakteristik setiap bahan baku.

Lalu, bagaimana cara menentukan reorder point bahan baku restoran agar keputusan pembelian lebih akurat tanpa menumpuk persediaan? Berikut panduan yang bisa kamu terapkan.

Apa Itu Reorder Point dan Bagaimana Rumus Dasarnya?

Reorder point (ROP) adalah titik persediaan yang memberi sinyal kapan restoran perlu memesan ulang agar bahan tidak habis selama menunggu pengiriman supplier. Angka ini merupakan pemicu pembelian, bukan jumlah yang harus dipesan.

Rumus dasar ROP adalah:

ROP = (Perkiraan pemakaian per hari × Lead time) + Safety stock

Rumus tersebut memperhitungkan kebutuhan bahan selama menunggu pesanan datang sekaligus menyediakan cadangan untuk menghadapi ketidakpastian.

Misalnya, restoran menggunakan 10 kg ayam per hari dan supplier membutuhkan waktu dua hari untuk mengirimkan pesanan. Artinya, restoran membutuhkan sekitar 20 kg ayam selama masa tunggu. Jika restoran menyediakan safety stock sebesar 5 kg, ROP-nya adalah 25 kg.

Saat posisi persediaan mencapai 25 kg atau lebih rendah, tim perlu meninjau pemesanan ulang. Posisi persediaan berarti stok yang tersedia + pesanan masuk yang sudah dikonfirmasi − stok yang sudah dialokasikan. Batas ROP perlu diperbarui ketika pola penjualan atau keandalan pengiriman berubah.

Memahami Tiga Komponen Utama ROP

Sebelum menghitung ROP, kamu perlu memahami tiga komponen yang menentukan kapan bahan harus dipesan kembali.

1. Average usage

Average usage adalah rata-rata pemakaian bahan per hari dalam periode yang representatif. Gunakan riwayat penggunaan aktual dari penjualan, resep/BOM, waste, dan penyesuaian stok; jangan menyamakannya dengan jumlah pembelian.

Contohnya, pemakaian ayam selama tujuh hari tercatat sebanyak 63 kg. Rata-rata pemakaiannya adalah 9 kg per hari. Namun, jika restoran selalu ramai pada akhir pekan, angka rata-rata tersebut bisa menyamarkan lonjakan kebutuhan pada hari tertentu.

Karena itu, gunakan data pemakaian yang cukup representatif dan bedakan pola hari kerja dengan akhir pekan jika perbedaannya signifikan.

2. Lead time

Lead time adalah waktu sejak pesanan dibuat hingga bahan baku diterima dan siap digunakan. Jika restoran memesan daging pada Senin dan menerimanya pada Rabu, lead time-nya sekitar dua hari.

Catat waktu pengiriman aktual setiap supplier. Jangan hanya mengandalkan estimasi yang tercantum dalam kesepakatan karena keterlambatan satu hari saja dapat memengaruhi ketersediaan bahan yang cepat habis.

3. Safety stock

Safety stock adalah cadangan untuk mengantisipasi permintaan yang melampaui perkiraan atau pengiriman yang lebih lambat dari rencana. Penentuannya perlu mempertimbangkan variasi pemakaian, riwayat lead time, dan risiko kehabisan bahan.

Bahan dengan permintaan stabil dan supplier yang konsisten mungkin hanya membutuhkan cadangan kecil. Sebaliknya, bahan yang permintaannya berfluktuasi atau sering terlambat dikirim membutuhkan perlindungan lebih besar.

Meski begitu, menambah safety stock bukan selalu pilihan terbaik. Untuk bahan yang mudah rusak, cadangan berlebihan justru meningkatkan risiko pemborosan.

Contoh Menghitung ROP Ayam atau Daging

Sumber: magnific.com

Sebagai simulasi, restoran memakai rata-rata 12 kg ayam per hari. Supplier memiliki lead time dua hari dan tim menetapkan safety stock sebesar 6 kg. Seluruh angka di bawah adalah contoh perhitungan, bukan patokan umum restoran.

Perhitungannya sebagai berikut:

  • Rata-rata pemakaian harian: 12 kg
  • Lead time: 2 hari
  • Safety stock: 6 kg
  • Kebutuhan selama lead time: 12 kg × 2 hari = 24 kg
  • Reorder point: 24 kg + 6 kg = 30 kg

ROP ayam pada kondisi normal adalah 30 kg. Saat posisi stok mencapai angka ini, tim purchasing memeriksa apakah sudah ada pesanan dalam perjalanan sebelum menerbitkan PO baru.

Jika perkiraan pemakaian selama dua hari menjelang promo menjadi 18 kg per hari, kebutuhan selama lead time adalah 36 kg. Dengan asumsi safety stock tetap 6 kg, ROP sementara naik menjadi (18 × 2) + 6 = 42 kg. Setelah promo, hitung ulang menggunakan perkiraan pemakaian berikutnya.

Perhitungan ini menunjukkan bahwa satu bahan bisa memiliki ROP berbeda bergantung pada kondisi permintaan. Angka 30 kg masih relevan untuk pola pemakaian normal, tetapi kurang memadai jika restoran menghadapi lonjakan penjualan yang sudah bisa diperkirakan.

Dalam praktiknya, keputusan pembelian sebaiknya memakai posisi persediaan: stok fisik yang dapat digunakan + pesanan yang sudah dikonfirmasi − jumlah yang dialokasikan. Contoh: stok fisik ayam 28 kg, 10 kg dipastikan datang tepat waktu, dan tidak ada alokasi lain. Posisi persediaan 38 kg, sehingga pemesanan tambahan belum otomatis diperlukan pada ROP normal 30 kg.

Baca juga: Apa Itu Safety Stock? Ini Cara Mengoptimalkannya untuk Bisnis Kamu

Perbedaan Reorder Point, Minimum Stock, dan Par Level

ROP, minimum stock, dan par level menjawab tiga pertanyaan yang berbeda: kapan membeli, batas yang tidak ingin dilewati, serta target jumlah stok setelah pengisian. Definisi minimum stock dapat berbeda di tiap restoran; dokumentasikan kebijakan yang dipakai agar tim menggunakan istilah secara konsisten.

AspekReorder PointMinimum StockPar Level
FungsiMenentukan kapan harus memesan ulangMenetapkan batas stok terendah yang ingin dipertahankanMenentukan jumlah stok yang ditargetkan
Dasar penentuanPemakaian selama lead time + safety stockAmbang stok kritis dan toleransi risikoTarget pengisian menurut kebutuhan periode
PenggunaanMemicu peninjauan pembelianMemberi peringatan saat stok terlalu rendahMenentukan jumlah pengisian kembali
ContohTinjau pesan saat posisi ayam 30 kgHindari stok turun di bawah 5 kgTarget stok ayam 45 kg

Sebagai simulasi, restoran menetapkan ROP ayam 30 kg, minimum stock 5 kg, dan par level 45 kg. Pemesanan dipertimbangkan ketika posisi persediaan menyentuh 30 kg; jika stok turun mendekati 5 kg tanpa pengiriman yang pasti, diperlukan eskalasi.

Jika posisi persediaan 35 kg dan target par level 45 kg, kebutuhan tambahan untuk mencapai target adalah 10 kg (45 − 35), sebelum memperhitungkan kemasan pembelian, kapasitas penyimpanan, umur simpan, dan permintaan yang belum tercermin pada data. ROP menentukan saat memesan; par level membantu menghitung jumlah pemesanan.

Menyesuaikan ROP saat Demand Berubah

Permintaan bahan baku restoran tidak selalu stabil. Akhir pekan, promosi, liburan, dan perubahan musim dapat memengaruhi jumlah pesanan. Karena itu, menggunakan rata-rata pemakaian bulanan tanpa melihat pola harian berisiko menghasilkan ROP yang kurang akurat.

Saat akhir pekan

Untuk periode akhir pekan, proyeksikan pemakaian pada hari-hari yang benar-benar tercakup oleh lead time. Jika pesanan baru akan tiba setelah dua hari ramai, gunakan kebutuhan Sabtu dan Minggu (18 + 18 = 36 kg), bukan rata-rata hari kerja 12 kg. Dengan cadangan 6 kg, ROP periode tersebut menjadi 42 kg.

ROP sebaiknya disesuaikan sebelum lonjakan tersebut terjadi, bukan setelah stok mulai menipis. Namun, penyesuaian perlu memperhitungkan waktu pemesanan dan jadwal pengiriman agar bahan tidak datang terlalu awal.

Saat menjalankan promosi

Promo paket makanan, diskon, atau kampanye di aplikasi pemesanan dapat meningkatkan permintaan menu tertentu. Restoran perlu menerjemahkan target penjualan menjadi kebutuhan bahan baku berdasarkan resep atau bill of materials (BOM).

Misalnya, kampanye diperkirakan menambah 100 porsi ayam, masing-masing menggunakan 150 gram ayam. Kebutuhan tambahan adalah 15 kg (100 × 150 gram). Masukkan kebutuhan ini ke proyeksi hari produksi terkait, lalu sesuaikan ROP hanya untuk periode ketika pesanan menunggu pengiriman.

Jumlah tersebut dapat dimasukkan ke dalam perencanaan kebutuhan selama periode promosi. Setelah promo berakhir, ROP perlu dikembalikan atau dihitung ulang berdasarkan perkiraan permintaan normal.

Saat musim liburan atau permintaan menurun

Musim liburan dapat meningkatkan kunjungan di satu lokasi, tetapi justru menurunkan penjualan di lokasi lain. Oleh karena itu, jangan langsung menerapkan kenaikan atau penurunan stok yang sama untuk seluruh cabang.

Gunakan riwayat penjualan, kalender promosi, reservasi, dan pola permintaan setiap lokasi. Dengan begitu, pembelian lebih sesuai dengan kebutuhan aktual dan risiko bahan berlebih dapat ditekan.

Pengaruh Lead Time Supplier terhadap Safety Stock

Dua supplier bisa memiliki estimasi pengiriman yang sama, tetapi tingkat keandalannya berbeda. Supplier pertama mungkin hampir selalu mengirim dalam dua hari, sedangkan supplier kedua terkadang membutuhkan tiga hingga empat hari.

Perbedaan ini penting karena ROP yang hanya menggunakan lead time rata-rata dapat mengabaikan risiko keterlambatan.

Sebagai simulasi, restoran memakai 12 kg ayam per hari. Pada lead time normal dua hari, kebutuhan selama menunggu adalah 24 kg. Jika pengiriman meleset menjadi tiga hari, kebutuhan naik menjadi 36 kg—tambahan paparan 12 kg dibandingkan rencana semula.

Selisih 12 kg tersebut menunjukkan potensi kekurangan stok jika restoran tidak memiliki cadangan yang memadai.

Gunakan riwayat tanggal PR/PO, tanggal bahan siap digunakan, jumlah yang diterima, serta catatan keterlambatan untuk melihat pola lead time supplier. Dari sini, tim dapat menguji skenario normal dan terlambat, lalu menentukan buffer berdasarkan risiko nyata, bukan perkiraan semata.

Jika keterlambatan terus terjadi, jangan hanya menambah cadangan tanpa evaluasi. Pertimbangkan jadwal pemesanan lebih awal, supplier alternatif, atau frekuensi pengiriman yang lebih sesuai dengan kebutuhan restoran.

Jika variasi lead time tinggi, uji minimal dua skenario: pengiriman normal dan terlambat. Cadangan harus menutup risiko yang realistis, tetapi bahan perishable mungkin lebih tepat ditangani lewat supplier alternatif atau jadwal pengiriman tambahan daripada menambah stok terlalu banyak.

Menentukan ROP untuk Bahan Perishable

Bahan perishable seperti ayam, ikan, daging segar, sayuran, dan produk susu memerlukan pendekatan berbeda. Menambah safety stock memang dapat mengurangi risiko kehabisan stok, tetapi juga meningkatkan potensi bahan kedaluwarsa atau rusak sebelum digunakan.

Karena itu, ROP untuk bahan mudah rusak perlu mempertimbangkan tiga hal berikut.

Pertama, batasi pesanan sesuai umur simpan yang aman. Periksa stok yang masih layak dipakai, kebutuhan sampai pengiriman berikutnya, dan kapasitas chiller. Jangan menaikkan ROP tanpa menilai berapa kilogram yang berpotensi rusak.

Kedua, jika supplier dan biaya memungkinkan, gunakan pembelian dengan frekuensi lebih sering serta kuantitas lebih kecil. Pengiriman harian atau bertahap sering lebih cocok bagi bahan segar daripada menyimpan cadangan untuk satu minggu.

Ketiga, pantau stok berdasarkan tanggal penerimaan dan kedaluwarsa. Terapkan prinsip FIFO (first in, first out) atau FEFO (first expired, first out) sesuai karakteristik bahan. Dengan begitu, bahan yang lebih dahulu masuk atau lebih dekat dengan tanggal kedaluwarsa dapat digunakan terlebih dahulu.

Misalnya, restoran memakai 12 kg ayam per hari dan pemasok dapat mengirim setiap hari secara konsisten. Kebutuhan selama lead time menjadi sekitar 12 kg, sehingga angka ROP bisa lebih rendah daripada skenario dua hari—tetap ditambah safety stock yang masuk akal serta dibatasi masa simpan.

Intinya, ROP bahan perishable bukan tentang menyimpan sebanyak mungkin, melainkan menjaga keseimbangan antara ketersediaan, waktu pengiriman, dan risiko pemborosan.

Kapan ROP Perlu Dihitung Ulang?

ROP bukan angka permanen. Agar tetap relevan, restoran perlu mengevaluasinya secara berkala dan setiap kali terjadi perubahan yang memengaruhi kebutuhan bahan baku.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Perubahan pola penjualan: menu semakin populer, pelanggan berkurang, atau komposisi pesanan berubah.
  • Perubahan supplier: lead time, minimum pemesanan, jadwal pengiriman, atau tingkat pemenuhan pesanan berubah.
  • Perubahan resep dan porsi: kebutuhan bahan per menu meningkat atau menurun.
  • Perubahan operasional: pembukaan cabang, perubahan jam operasional, atau penyesuaian menu.
  • Selisih stok berulang: stok fisik sering tidak sesuai dengan catatan sehingga data pemakaian perlu diperiksa.

Sebagai langkah awal, restoran dapat meninjau bahan kritis setiap minggu dan mengevaluasi seluruh parameter ROP setiap bulan. Frekuensi tersebut bukan aturan mutlak. Bahan dengan perputaran cepat atau risiko kehabisan tinggi mungkin membutuhkan pemantauan harian.

Sebelum memperbarui ROP, pastikan lonjakan pemakaian bukan akibat pencatatan ganda, waste yang belum tercatat, kesalahan resep, atau transaksi pembatalan yang belum dikoreksi. Data yang keliru akan menghasilkan keputusan pemesanan yang keliru pula.

Gunakan satuan waktu yang konsisten saat menghitung ROP: jika lead time dicatat dalam hari, pemakaian juga harus dinyatakan per hari. Validasi ulang angka setelah promo, perubahan menu, atau keterlambatan supplier besar.

Contoh Tabel Monitoring ROP Bahan Baku Restoran

Buat monitoring per bahan dengan satuan konsisten, data pemakaian terbaru, lead time, safety stock, ROP, dan posisi persediaan. Contoh berikut adalah simulasi tanpa stok dalam perjalanan atau alokasi tambahan; karena itu, angka posisi stok sama dengan stok fisik.

Bahan bakuPemakaian harianLead timeSafety stockROPPosisi stok*Status
Ayam12 kg2 hari6 kg30 kg28 kgTinjau pesan
Daging sapi8 kg3 hari8 kg32 kg40 kgAman
Sayuran10 kg1 hari3 kg13 kg9 kgTinjau pesan

Angka dalam tabel merupakan simulasi untuk ilustrasi, bukan standar kebutuhan setiap restoran.

Dalam simulasi, posisi stok ayam (28 kg) dan sayuran (9 kg) berada di bawah ROP masing-masing sehingga tim perlu meninjau pembelian. Daging sapi masih berada di atas batas. Status “Tinjau pesan” bukan berarti PO harus langsung dibuat tanpa memeriksa barang yang sedang dikirim.

Untuk penggunaan nyata, tambahkan kolom pesanan dalam perjalanan yang telah dikonfirmasi, alokasi stok, kedaluwarsa, kebutuhan sampai pengiriman berikutnya, dan tanggal pembaruan. Jika terdapat 10 kg ayam dalam perjalanan yang dipastikan tiba tepat waktu, posisinya naik dari 28 kg menjadi 38 kg dan keputusan pemesanan dapat berubah.

Dengan monitoring berbasis data pemakaian dan riwayat pembelian, tim purchasing dapat menentukan waktu dan jumlah pesanan tanpa hanya mengandalkan stok fisik hari itu.

Baca juga: Panduan Inventory Control Bisnis Kuliner: Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerjanya

FAQ Seputar Reorder Point Bahan Baku Restoran

1. Apakah ROP harus dihitung untuk setiap bahan baku?

Idealnya, ya, terutama untuk bahan yang berpengaruh langsung terhadap menu, memiliki perputaran tinggi, atau sulit digantikan. Namun, tingkat detail dan frekuensi pemantauan dapat disesuaikan dengan nilai, risiko, serta karakteristik masing-masing bahan.

2. Seberapa sering reorder point harus diperbarui?

ROP dapat ditinjau setiap bulan sebagai jadwal awal, lalu diperbarui ketika pola permintaan, lead time supplier, resep, atau kondisi operasional berubah. Bahan kritis sebaiknya dipantau lebih sering.

3. Apakah safety stock yang besar selalu lebih aman?

Tidak. Safety stock yang terlalu besar meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko kerusakan, terutama pada bahan perishable. Jumlah cadangan perlu menyesuaikan ketidakpastian permintaan dan pengiriman serta umur simpan bahan.

4. Apa yang harus dilakukan jika stok sudah di bawah ROP?

Segera periksa kebutuhan pemakaian selama lead time, status pesanan berjalan, dan jadwal supplier. Jika risiko kehabisan tinggi, pertimbangkan pengiriman dipercepat atau supplier alternatif. Untuk bahan yang belum bisa dipenuhi, sesuaikan perencanaan menu secara terukur.

5. Bagaimana sistem inventory membantu menentukan ROP?

Sistem inventory membantu mengumpulkan riwayat pemakaian, pergerakan stok, hasil stock opname, dan data pembelian. Jika datanya tercatat konsisten, restoran dapat mengevaluasi ROP berdasarkan kondisi aktual, bukan sekadar perkiraan manual.

Kesimpulan

Reorder point bahan baku restoran harus menyesuaikan demand, waktu tunggu supplier, dan safety stock. Rumus awal berguna, tetapi keputusan harian perlu memakai riwayat pemakaian, posisi persediaan, keandalan pengiriman, serta batas umur simpan, terutama untuk bahan segar. Dengan evaluasi berkala, tim bisa mengurangi risiko kehabisan bahan tanpa memicu pembelian berlebihan.

Untuk mendukung keputusan pembelian berbasis data aktual, ESB Core membantu pengelolaan inventory, penyesuaian stok, pembelian, serta pemantauan data operasional lintas cabang secara terpusat. Riwayat pemakaian dan pengadaan yang rapi bisa menjadi dasar evaluasi ROP yang lebih relevan. Hubungi tim ESB untuk mendiskusikan kebutuhan restoran.

ESB

Ruko Paramount Center II Blok B/8,
Jl. CBD Gading Serpong, Tangerang 15810

150358

(08.30 - 18.00) GMT+7

InstagramFacebookTikTokLinkedInEmail
Copyright 2026 © PT. Esensi Solusi Buana