Apa Itu Merchant Discount Rate (MDR)? Tarif Potongan QRIS Terbaru & Dampaknya Bagi Bisnis
Promo

Apa Itu Merchant Discount Rate (MDR)? Tarif Potongan QRIS Terbaru & Dampaknya Bagi Bisnis

Tayang: 22 Juli 2026Ditulis Oleh: Briantama Afiq Ashari

Pernah nggak sih kamu merasa kalau di era sekarang ini, hampir semua pelanggan kalau bayar apa-apa maunya tinggal scan kode QR saja?

Sebagai pemilik bisnis, menyediakan opsi pembayaran digital lewat QRIS memang seperti penyelamat yang bikin transaksi menjadi sat-set-sat-set.

Namun, di balik kemudahan itu, sebagai pebisnis cerdas, tentu kamu perlu jeli melihat adanya penyesuaian biaya operasional yang belakangan ini ramai dibahas oleh sesama pelaku usaha kuliner dan UMKM.

Menanggapi fenomena ini, muncul berbagai opini yang menyebutkan bahwa potongan transaksi nontunai ini cukup membebani.

Sementara di sisi lain, banyak juga yang menilai langkah digitalisasi ini adalah kunci utama agar bisnis kuliner kamu bisa bersaing secara modern dan naik kelas.

Memahami aturan main potongan biaya adalah langkah krusial biar kamu bisa menyusun strategi harga makanan tanpa perlu mengorbankan margin profit.

Yuk, kita kupas tuntas dari dasar tentang apa sebenarnya biaya ini, berapa tarif terbarunya, dan gimana tips cerdas menyikapinya agar bisnismu tetap cuan!

Apa Itu Merchant Discount Rate (MDR)?

Biar nggak bingung dengan istilah asing ini, mari kita bahas dengan bahasa yang mudah dipahami, ya!

Sederhananya, merchant discount rate adalah biaya jasa pelayanan, dikenakan kepada pemilik toko atau merchant untuk setiap transaksi pembayaran nontunai yang berhasil diproses menggunakan kartu debit, kartu kredit, hingga kode QR.

Jadi, setiap kali pelanggan menyodorkan HP mereka untuk membayar menu favorit di outlet kamu menggunakan dompet digital, ada persentase kecil yang akan dipotong oleh bank atau lembaga penyedia jasa pembayaran sebagai upah.

Penting buat diingat, merchant discount rate adalah potongan yang ditujukan kepada kamu sebagai pemilik bisnis, dan sama sekali nggak boleh dibebankan langsung ke pembeli dengan cara menaikkan harga atau menambah biaya ekstra (surcharge) saat mereka mau bayar pakai metode nontunai.

Aturan ketat dari Bank Indonesia ini dibuat agar ekosistem transaksi digital tetap ramah bagi konsumen.

Sebagai pemilik usaha yang bijak, kamu harus melihat biaya ini sebagai investasi agar operasional kasir kamu berjalan lebih cepat, aman, dan meminimalkan risiko adanya uang palsu atau selisih pembukuan harian.

Membahas tentang biaya transaksi digital tentu nggak lengkap kalau kita nggak menyinggung salah satu metode pembayaran nontunai paling populer di Indonesia saat ini, yaitu QRIS.

Seiring dengan peningkatan penggunaannya yang luar biasa pesat, aturan mengenai merchant discount rate QRIS pun mengalami penyesuaian berkala dari regulator guna mendukung keadilan bagi pelaku usaha kecil maupun menengah.

Pemahaman yang detail mengenai skema tarif ini sangat penting agar kamu nggak salah dalam menghitung pengeluaran harian bisnismu.

Lantas, sebenarnya apa itu merchant discount rate dan bagaimana skema pengenaannya bekerja secara nyata pada setiap transaksi?

Ketika kamu mendaftarkan bisnismu untuk memiliki fasilitas pembayaran QRIS, kamu secara otomatis menyetujui kontrak kerja sama yang di dalamnya memuat aturan merchant discount rate QRIS ini.

Potongan biaya tersebut nantinya langsung dipotong secara otomatis sebelum dana transaksi diteruskan dan masuk ke rekening tokomu.

Supaya kamu punya gambaran yang lebih jelas mengenai aturan tarif terbarunya, mari kita lihat rincian resmi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada bagian selanjutnya.

Baca Juga: Retensi Pelanggan Adalah Kunci Keberhasilan Bisnis, Begini Cara Meningkatkannya!

Rincian Tarif Potongan MDR QRIS Terbaru dari Bank Indonesia

Sumber: Istockphoto

Sebagai wujud dukungan nyata bagi perkembangan ekonomi nasional, Bank Indonesia secara berkala menyesuaikan tarif merchant discount rate QRIS agar tetap ramah di kantong para pemilik usaha, khususnya skala mikro.

Melalui kebijakan terbaru, Bank Indonesia menetapkan struktur tarif yang cukup adil berdasarkan kategori skala bisnis yang kamu miliki, sehingga beban potongan yang kamu rasakan bisa disesuaikan dengan kapasitas omzet usahamu.

Berikut ini adalah rincian tarif merchant discount rate QRIS terbaru yang wajib kamu ketahui:

  1. Usaha Mikro (UMI): Untuk transaksi kecil dengan nominal sampai dengan Rp500.000 per transaksi, tarif MDR yang dikenakan adalah 0% (alias gratis!). Kebijakan ini tentu menjadi angin segar bagi pelaku usaha kecil karena bisa menikmati fasilitas pembayaran digital tanpa potongan sepeser pun. Namun, jika nominal transaksi dalam satu struk tersebut berada di atas Rp500.000, barulah dikenakan tarif bersahabat sebesar 0,3%.
  2. Usaha Kecil (UKE), Usaha Menengah (UME), dan Usaha Besar (UBE): Bagi bisnis yang sudah masuk dalam kategori menengah ke atas ini, tarif reguler yang berlaku adalah sebesar 0,7% dari total nilai transaksi, tanpa melihat batas nominal struk belanjaan pelanggan.
  3. Kategori Sektor Khusus: Untuk transaksi di sektor pendidikan dikenakan tarif sebesar 0,6%, area SPBU dikenakan tarif 0,4%, sementara untuk transaksi yang berkaitan dengan bantuan sosial pemerintah, pembayaran pajak (People to Government), serta donasi sosial nirlaba dibebaskan dari biaya alias 0%.

Nah, dengan memahami rincian tarif di atas, sekarang kamu nggak perlu lagi menebak-nebak kenapa dana yang masuk ke rekeningmu terkadang nggak bulat sama persis dengan total belanjaan pelanggan.

Mengingat tarif merchant discount rate QRIS ini sangat bergantung pada kategori bisnismu, pastikan saat melakukan pendaftaran merchant, kamu memilih klasifikasi bisnis yang benar dan jujur agar nggak terkena kesalahan tarif.

Setelah mengetahui tarif persentase potongan transaksi harian, biasanya muncul pertanyaan: "Lalu apa bedanya dengan biaya penarikan atau pengiriman dana yang biasanya dipotong setiap hari saat memindahkan uang hasil penjualan?".

Nah, biar nggak tertukar antara satu jenis potongan dengan potongan lainnya, yuk kita bahas perbedaan mendasar antara biaya MDR dan biaya settlement di bawah ini.

Perbedaan MDR QRIS dan Biaya Settlement

Bagi kamu yang baru saja mengadopsi sistem pembayaran digital di restoran atau kafemu, memahami komponen biaya administrasi memang gampang-gampang susah.

Seringkali, para pebisnis pemula mencampuradukkan antara potongan merchant discount rate QRIS dengan biaya pengiriman dana atau yang biasa disebut dengan biaya settlement.

Padahal, kedua komponen biaya ini memiliki tujuan, pihak penerima, dan cara pemotongan yang sangat berbeda. Mari kita bedah satu per satu agar pembukuan keuangan tokomu tetap rapi dan nggak membingungkan:

  • Merchant Discount Rate (MDR): Seperti yang sudah kita bahas, merchant discount rate adalah biaya yang dihitung dalam bentuk persentase (misalnya 0,3% atau 0,7%) dan langsung memotong nilai transaksi secara otomatis pada saat pelanggan melakukan pembayaran.

Biaya ini dibayarkan kepada lembaga-lembaga yang memfasilitasi transaksi digital tersebut, seperti bank pengakuisisi, penerbit dompet digital, lembaga switching, hingga lembaga penanggung jawab gerbang pembayaran nasional.

  • Biaya Settlement: Biaya ini adalah tarif flat (biasanya berkisar antara Rp1.500 hingga Rp3.000 per pengiriman, bahkan ada yang gratis tergantung kebijakan penyedia jasa pembayaran yang kamu gunakan) yang dikenakan ketika kamu melakukan penarikan atau transfer saldo hasil penjualan dari akun merchant digital ke rekening bank operasional pribadimu.

Biaya ini murni dikenakan sebagai jasa transfer antar bank, dan biasanya ditarik per kali pengiriman dana, bukan per transaksi dari pelanggan.

Dengan memahami perbedaan ini, kamu bisa melakukan perencanaan arus kas (cash flow) dengan lebih matang.

Misalnya, daripada kamu melakukan penarikan dana atau settlement setiap beberapa jam sekali yang bisa membuat biaya transfer antar bank membengkak, kamu bisa menjadwalkan penarikan dana satu kali saja di akhir hari setelah outlet kuliner kamu tutup.

Memahami kedua jenis pengeluaran ini tentu membawa kita pada analisis yang lebih mendalam mengenai operasional bisnis sehari-hari.

Seberapa besar sih sebenarnya pengaruh dari akumulasi potongan kecil ini terhadap kelangsungan bisnis UMKM atau restoran yang sedang berkembang? Mari kita analisis dampaknya secara nyata pada kelangsungan usaha kamu.

Dampak Potongan MDR Terhadap Keuntungan UMKM dan Restoran

Bagi sebuah restoran, kafe, atau warung makan yang sedang berjuang menaikkan omzet penjualan, setiap rupiah yang keluar tentu sangat berharga.

Jika ditinjau sekilas, persentase tarif merchant discount rate QRIS yang berkisar antara 0,3% hingga 0,7% itu memang terlihat sangat kecil dan sepele.

Namun, jika outlet kuliner kamu memiliki volume transaksi harian yang sangat tinggi dengan margin keuntungan produk yang tipis, akumulasi dari potongan kecil ini tentu bisa memberikan dampak pada laporan laba rugi bulanan tokomu.

Mari kita ambil ilustrasi sederhana untuk kategori usaha menengah yang terkena tarif 0,7%.

Jika tokomu berhasil membukukan transaksi harian lewat pembayaran digital sebesar Rp5.000.000, maka potongan transaksi yang terjadi pada hari itu adalah sekitar Rp35.000.

Dalam kurun waktu satu bulan, akumulasi potongan ini bisa mencapai Rp1.050.000. Angka ini tentu cukup signifikan jika nggak diantisipasi dengan perhitungan harga pokok penjualan (HPP) yang matang sejak awal.

Namun, di balik adanya potongan tersebut, kamu juga harus melihat dampak positif yang jauh lebih besar bagi perkembangan bisnismu:

  • Meningkatkan Volume Penjualan: Banyak pelanggan di zaman sekarang yang enggan membawa uang tunai karena alasan kepraktisan. Dengan menyediakan pembayaran nontunai, kamu berhasil mengamankan potensi transaksi dari pelanggan tipe ini yang mungkin saja akan langsung batal membeli kalau tokomu hanya menerima pembayaran tunai.
  • Operasional Jauh Lebih Higienis: Di bisnis kuliner, kebersihan adalah segalanya. Staf dapur atau kasir yang harus memegang uang kertas secara bergantian dengan makanan berisiko menyebarkan kuman. Transaksi digital membuat proses pelayanan jadi jauh lebih bersih dan higienis.
  • Pembukuan Otomatis yang Akurat: Kamu nggak perlu lagi pusing menghitung sisa uang di laci kasir setiap akhir hari atau merasa khawatir adanya uang kembalian yang hilang. Semua transaksi tercatat dengan sangat rapi dan transparan di dalam sistem secara instan.

Melihat adanya dua sisi mata uang dari dampak digitalisasi ini, kuncinya terletak pada bagaimana cara kamu mengelola bisnis secara cerdas agar kelebihan teknologi ini tetap bisa kamu nikmati secara maksimal tanpa membuat margin keuntungan tokomu tergerus.

Mau tahu gimana caranya? Yuk, simak tips praktisnya berikut ini!

Tips Cerdas Mengelola Biaya MDR Agar Bisnis Tetap Untung

Sumber: Istockphoto

Setelah memahami secara mendalam tentang apa itu merchant discount rate beserta rincian tarif terbarunya, sekarang saatnya kamu menyusun strategi jitu agar bisnismu tetap bisa meraup untung maksimal.

Kamu nggak perlu merasa khawatir margin tipismu akan habis terpotong, karena ada beberapa langkah taktis yang bisa langsung kamu terapkan mulai hari ini di outlet kulinermu:

  • Sertakan Biaya MDR ke dalam Perhitungan HPP: Saat pertama kali menentukan harga menu makanan atau minuman, pastikan kamu sudah memasukkan sedikit komponen biaya operasional nontunai ke dalam perhitungan dasar harga pokok penjualan.

Dengan cara ini, margin keuntungan bersih yang kamu targetkan sejak awal nggak akan terganggu oleh potongan transaksi harian.

  • Optimalkan Sistem Pembulatan Harga yang Wajar: Alih-alih menetapkan harga menu yang sangat pas-pasan, kamu bisa melakukan pembulatan harga ke atas secara psikologis yang tetap terlihat menarik bagi pelanggan (misalnya dari harga Rp14.800 dibulatkan menjadi Rp15.000).

Selisih pembulatan tipis tersebut biasanya sudah sangat cukup untuk menutup biaya merchant discount rate adalah potongan transaksi tanpa membuat pelanggan merasa keberatan.

  • Gunakan Sistem Kasir Pintar yang Terintegrasi: Langkah paling ampuh untuk menekan biaya operasional di bagian lain adalah dengan menggunakan teknologi kasir yang efisien dan serba otomatis.

Dengan memangkas waktu kerja manual di kasir, kamu bisa menghemat pengeluaran operasional lainnya untuk mengompensasi biaya transaksi digital ini.

Baca Juga: Kenapa Service Plate Penting? Ini Cara Penyajian yang Bikin Makanan Terlihat Lebih Berkelas

Mengelola biaya administrasi memang membutuhkan ketelitian tinggi, namun dengan bantuan sistem operasional modern dan terintegrasi, semua urusan keuangan serta pencatatan transaksi di tokomu dijamin akan berjalan lebih mulus.

Untuk menjawab beberapa keraguan kecil yang mungkin masih tersisa di kepalamu, yuk simak rangkuman tanya jawab cepat di bagian FAQ berikut ini.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah merchant diperbolehkan membebankan biaya MDR langsung kepada pelanggan?

Sama sekali nggak boleh ya! Bank Indonesia melarang keras segala bentuk pengenaan biaya tambahan (surcharge) kepada konsumen yang memilih membayar menggunakan metode nontunai. Harga yang dibayar oleh pelanggan yang menggunakan QRIS harus sama persis dengan pelanggan yang membayar tunai.

2. Apakah semua transaksi QRIS di bawah Rp500.000 untuk Usaha Mikro benar-benar gratis potongan?

Betul sekali! Sesuai dengan ketentuan terbaru dari Bank Indonesia, khusus untuk pelaku Usaha Mikro (UMI), transaksi harian dengan nominal sampai dengan Rp500.000 per transaksi dikenakan tarif merchant discount rate QRIS sebesar 0%. Ini adalah langkah nyata pemerintah untuk mendukung tumbuh kembang bisnis kecil agar makin go-digital tanpa perlu mencemaskan potongan biaya transaksi harian.

3. Bagaimana cara agar bisnis saya terdaftar sebagai kategori Usaha Mikro agar mendapatkan tarif 0%?

Kamu harus memastikan bahwa pada saat melakukan registrasi merchant digital melalui Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) pilihanmu, kamu melampirkan dokumen pendukung usaha yang sah dan memilih klasifikasi skala usaha mikro sesuai dengan kriteria omzet tahunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Kesimpulan

Gimana, setelah melihat berbagai tantangan dan peluang tadi, sekarang kamu makin paham kan kalau mengelola bisnis kuliner itu ada manajemen operasional, pencatatan keuangan yang rapi, hingga pelayanan pelanggan super cepat.

Semua hal ini saling berkaitan dan nggak bisa dipisahkan kalau kamu pengen bisnis kuliner kamu bertahan lama dan terus berkembang di tengah persaingan yang makin ketat.

Meningkatkan efisiensi di meja kasir dan area dapur adalah kunci utama agar pelanggan nggak perlu menunggu lama untuk menikmati pesanan mereka.

Ketika semua proses ini berjalan dengan otomatis dan minim kesalahan manusia, kamu pun bisa lebih fokus memikirkan strategi pengembangan bisnis yang lebih besar.

Biar kamu nggak pusing lagi memikirkan pembukuan yang berantakan atau antrean yang mengular, menggunakan teknologi modern adalah langkah paling tepat yang bisa kamu ambil sekarang.

Kamu bisa mengandalkan ESB POS sebagai sistem kasir pintar yang dirancang khusus untuk mempermudah segala bentuk transaksi, pengelolaan inventaris, hingga penyusunan laporan keuangan secara otomatis dan real-time.

Selain itu, untuk memberikan nuansa makan di tempat yang lebih menyenangkan dan kekinian bagi para pelanggan setia kamu, integrasi dengan layanan ESB di Restoran bakal menjadi solusi terbaik.

Layanan ini memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dan pembayaran langsung dari meja mereka dengan sangat mudah, praktis, dan tanpa ribet. Yuk, saatnya kurangi drama operasional dan buat bisnismu berjalan lebih otomatis!

Langsung saja temukan solusi lengkapnya untuk kelancaran kasir kamu pakai ESB dan hubungi tim kami sekarang.

ESB

Ruko Paramount Center II Blok B/8,
Jl. CBD Gading Serpong, Tangerang 15810

150358

(08.30 - 18.00) GMT+7

InstagramFacebookTikTokLinkedInEmail
Copyright 2026 © PT. Esensi Solusi Buana