laporan closing restoran
Point of Sales (POS)

Apa Saja yang Harus Dicek dalam Laporan Closing Kasir Restoran?

Tayang: 21 Oktober 2026Ditulis Oleh: Briantama Afiq Ashari

Kasir sudah menghitung uang di laci, transaksi terlihat selesai, dan restoran bersiap tutup. Namun, apakah jumlah uang tersebut benar-benar sesuai dengan penjualan hari itu?

Pertanyaan ini penting karena laporan closing kasir restoran bukan sekadar catatan total omzet atau proses menghitung uang tunai sebelum pulang. Ada banyak hal yang perlu dicocokkan, mulai dari metode pembayaran, transaksi refund, diskon, hingga uang yang masuk dan keluar selama shift berlangsung.

Bayangkan sebuah restoran mencatat penjualan Rp8 juta dalam satu hari. Angka tersebut terlihat bagus. Namun, setelah diperiksa, uang tunai di laci ternyata kurang Rp200.000.

Di sisi lain, ada transaksi QRIS yang belum masuk ke rekening dan satu pesanan yang status pembayarannya masih menggantung. Tanpa pemeriksaan yang tepat, pemilik restoran bisa kesulitan mengetahui sumber perbedaannya.

Nah, jadi, proses closing perlu dilakukan secara sistematis. Tujuannya tentu bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan seluruh transaksi tercatat dan setiap selisih bisa ditelusuri.

Apa Tujuan Closing Kasir Restoran?

Closing kasir merupakan proses pemeriksaan dan pencocokan transaksi pada akhir shift atau akhir operasional. Proses ini memastikan catatan penjualan, pembayaran, serta posisi uang yang dikelola kasir sudah sesuai.

Ada tiga hal utama yang perlu dipastikan. Pertama, seluruh transaksi penjualan sudah tercatat. Kedua, pembayaran dari berbagai metode sudah memiliki status yang jelas.

Ketiga, uang tunai yang seharusnya tersedia sudah sesuai dengan uang fisik di laci kasir. Proses ini juga menjadi dasar bagi supervisor atau pemilik restoran untuk mengevaluasi operasional harian.

Jika dilakukan secara konsisten, restoran bisa lebih cepat menemukan transaksi yang belum selesai atau kesalahan pencatatan. Supaya pemeriksaan berjalan terarah, langkah pertama adalah memahami gambaran penjualan selama shift berlangsung.

Cek Total Sales dan Transaction Count

Total sales menunjukkan nilai penjualan yang tercatat selama periode tertentu. Sementara itu, transaction count menunjukkan jumlah transaksi yang terjadi dalam periode yang sama.

Keduanya perlu diperiksa bersamaan. Misalnya, sistem mencatat total penjualan Rp8 juta dari 160 transaksi. Jika laporan kasir menunjukkan hanya 150 transaksi, ada perbedaan yang perlu ditelusuri.

Periksa juga periode laporan. Pastikan tanggal dan jam awal hingga akhir shift sudah benar. Hal ini penting ketika restoran menggunakan beberapa shift dalam sehari.

Transaksi yang masuk setelah pergantian shift harus tercatat pada periode yang sesuai. Selain itu, perhatikan apakah angka penjualan yang ditampilkan merupakan penjualan kotor atau sudah dikurangi diskon, refund, dan penyesuaian lainnya.

Setiap sistem bisa memiliki format laporan berbeda, sehingga definisi angka perlu dipahami sebelum melakukan pencocokan. Setelah total penjualan dan jumlah transaksi sesuai, pemeriksaan berikutnya beralih ke sumber pembayaran.

Baca juga: Wajib Tahu! 9 Fitur Canggih Aplikasi Kasir Restoran untuk Bantu Operasional Bisnis

Cek Payment Breakdown: Cash, QRIS, Card, dan E-Wallet

Total penjualan belum cukup untuk memastikan kondisi keuangan restoran. Kamu juga perlu mengetahui bagaimana pelanggan membayar pesanan mereka.

Payment breakdown membagi transaksi berdasarkan metode pembayaran. Umumnya, restoran menerima uang tunai, QRIS, kartu debit atau kredit, serta dompet digital.

Contohnya, total penjualan Rp8 juta terdiri dari Rp2 juta pembayaran tunai, Rp3 juta QRIS, Rp1,5 juta kartu, dan Rp1,5 juta e-wallet. Jumlah seluruh metode pembayaran tersebut harus dapat direkonsiliasi dengan nilai transaksi yang tercatat sesuai dasar laporan.

Pemeriksaan ini membantu menemukan kesalahan seperti transaksi QRIS yang tercatat sebagai tunai atau pembayaran kartu yang masuk ke kategori berbeda.

Jika restoran menerima beberapa metode pembayaran, pastikan setiap kategori diperiksa secara terpisah. Dengan begitu, sumber selisih lebih mudah diketahui daripada hanya mengandalkan total penjualan.

Cocokkan Expected Cash dengan Physical Cash

Sumber: istockphoto

Setelah payment breakdown diperiksa, fokus berikutnya adalah uang tunai. Bagian ini sering menjadi perhatian utama karena kasir harus mencocokkan jumlah uang yang seharusnya tersedia dengan uang fisik di laci.

Expected cash merupakan jumlah uang tunai yang seharusnya ada berdasarkan catatan transaksi dan pergerakan kas. Sementara itu, physical cash adalah uang yang benar-benar dihitung saat closing.

Rumus sederhananya: Expected Cash = Opening Cash + Cash Sales + Cash In - Cash Out - Cash Refund. Contohnya, kas awal shift Rp300.000. Selama operasional, kasir menerima penjualan tunai Rp2.000.000 dan tambahan uang masuk Rp100.000.

Ada pengeluaran kas Rp150.000 serta refund tunai Rp50.000. Maka: Rp300.000 + Rp2.000.000 + Rp100.000 − Rp150.000 − Rp50.000 = Rp2.200.000. Jika hasil penghitungan uang fisik hanya Rp2.150.000, berarti terdapat selisih kurang Rp50.000.

Selisih tersebut perlu dicatat dan ditelusuri. Jangan langsung menganggapnya sebagai kesalahan kasir sebelum memeriksa seluruh transaksi dan bukti pendukung.

Review Void, Refund, Discount, dan Complimentary

Selain transaksi penjualan normal, restoran perlu memeriksa transaksi yang mengalami penyesuaian. Beberapa jenis transaksi yang perlu diperhatikan adalah void, refund, discount, dan complimentary.

Void merupakan pembatalan transaksi atau item sesuai prosedur sistem. Refund adalah pengembalian pembayaran kepada pelanggan. Sementara itu, discount merupakan potongan harga, sedangkan complimentary adalah produk atau layanan yang diberikan tanpa membebankan pembayaran kepada pelanggan.

Setiap transaksi tersebut sebaiknya memiliki alasan yang jelas. Misalnya, pesanan dibatalkan karena pelanggan salah memilih menu, makanan dikembalikan karena kualitasnya kurang sesuai, atau supervisor memberikan complimentary sebagai bentuk penanganan keluhan.

Perhatikan juga siapa yang melakukan atau menyetujui transaksi tersebut. Jika ada transaksi bernilai besar atau pembatalan berulang, supervisor perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pencatatan yang rapi membantu restoran membedakan penjualan normal dengan penyesuaian transaksi. Setelah itu, pemeriksaan perlu dilanjutkan pada pergerakan kas di luar pembayaran pelanggan.

Review Cash In, Cash Out, dan Petty Cash

Selama shift berlangsung, uang tunai bisa mengalami pergerakan selain dari transaksi penjualan. Misalnya, ada tambahan uang untuk kas kecil, pengeluaran membeli kebutuhan mendadak, atau pengembalian dana kepada pelanggan.

Cash in mencatat uang yang masuk ke kas, sedangkan cash out mencatat uang yang keluar. Jika restoran menggunakan petty cash, setiap pengeluaran sebaiknya dilengkapi bukti dan keterangan.

Contohnya, kasir mengeluarkan Rp75.000 untuk membeli kebutuhan kebersihan karena stok mendadak habis. Pengeluaran ini harus dicatat agar jumlah uang fisik bisa dicocokkan dengan expected cash.

Hindari pengeluaran tanpa keterangan. Catatan seperti belanja operasional saja sering kurang membantu ketika transaksi perlu diperiksa kembali. Lebih baik tuliskan barang yang dibeli, nominal, waktu, dan pihak yang menyetujui.

Baca juga: Apa Itu VOID & Efek Kerugiannya Bagi Bisnis Kuliner?

Periksa Transaksi Pending atau Unpaid

Sumber: istockphoto

Transaksi pending atau unpaid juga perlu diperhatikan sebelum shift ditutup. Transaksi ini bisa muncul ketika pelanggan belum menyelesaikan pembayaran, pembayaran digital masih menunggu konfirmasi, atau proses pemesanan mengalami gangguan.

Kasir perlu memeriksa status setiap transaksi yang belum selesai. Jangan sampai pesanan yang sudah disajikan masih tercatat sebagai belum dibayar tanpa tindak lanjut.

Jika pembayaran memang belum diterima, catat status dan alasan transaksinya. Apabila pelanggan sudah membayar tetapi status di sistem belum berubah, periksa bukti pembayaran dan lakukan penanganan sesuai prosedur restoran.

Pemeriksaan ini penting karena transaksi yang menggantung dapat membuat laporan penjualan dan pembayaran terlihat berbeda. Selain itu, restoran juga perlu memahami bahwa pembayaran non-tunai memiliki proses pencairan tersendiri.

Pahami Settlement Pembayaran Non-Tunai

Pembayaran melalui QRIS, kartu, atau e-wallet belum tentu langsung masuk ke rekening restoran pada hari yang sama. Ada proses settlement atau penyelesaian dana dari penyedia layanan pembayaran.

Oleh karena itu, nilai transaksi non-tunai dalam laporan kasir bisa berbeda dari dana yang sudah terlihat di rekening. Perbedaan tersebut belum tentu menunjukkan adanya kesalahan.

Kasir atau tim keuangan perlu memeriksa laporan transaksi dari penyedia pembayaran, jadwal settlement, serta biaya layanan jika ada. Pastikan nilai transaksi yang tercatat bisa ditelusuri berdasarkan tanggal, metode pembayaran, dan bukti transaksi.

Dengan memahami perbedaan waktu pencatatan penjualan dan pencairan dana, restoran bisa menghindari kesimpulan yang keliru saat melakukan rekonsiliasi.

Gunakan Checklist Closing agar Pemeriksaan Lebih Teratur

Setelah memahami komponen yang harus diperiksa, restoran bisa menggunakan checklist agar setiap langkah dijalankan secara konsisten. Checklist juga memudahkan supervisor melihat bagian mana yang sudah selesai dan bagian mana yang masih membutuhkan tindak lanjut.

Checklist ini bisa digunakan dalam bentuk formulir digital maupun dokumen operasional. Hal terpenting adalah setiap temuan memiliki catatan dan PIC yang jelas.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Ditemukan Selisih?

Ketika ditemukan selisih, jangan langsung menutup shift seolah semuanya sudah selesai. Lakukan pemeriksaan ulang secara bertahap.

Mulailah dengan menghitung kembali uang fisik. Setelah itu, periksa transaksi tunai, cash in, cash out, refund, serta pembatalan yang terjadi selama shift. Cocokkan juga bukti pembayaran dan status transaksi digital.

Jika sumber selisih belum ditemukan, catat nominal serta hasil pemeriksaan sementara. Supervisor perlu mengetahui kondisi tersebut sebelum proses closing disetujui.

Hindari mengubah angka laporan hanya agar terlihat cocok. Setiap koreksi harus mengikuti prosedur dan memiliki jejak pencatatan. Dengan cara ini, restoran bisa mengetahui penyebab selisih sekaligus mencegah masalah serupa terulang.

Lakukan Handover dan Approval Supervisor

Closing belum benar-benar selesai ketika kasir selesai menghitung uang. Masih ada proses handover atau serah terima informasi kepada supervisor maupun petugas shift berikutnya.

Kasir perlu menyampaikan total penjualan, kondisi kas, transaksi yang belum selesai, serta selisih yang ditemukan. Bukti pengeluaran dan catatan refund juga perlu disertakan jika berkaitan dengan pemeriksaan.

Supervisor kemudian memeriksa kelengkapan laporan dan memberikan approval sesuai kewenangannya. Jika masih ada masalah, statusnya perlu dicatat sebagai tindak lanjut, bukan sekadar diserahkan secara lisan.

Proses ini membuat laporan closing kasir restoran menjadi dokumen operasional yang bisa digunakan untuk evaluasi dan penelusuran transaksi.

FAQ Seputar Closing Kasir Restoran

1. Apa saja yang harus diperiksa saat closing kasir?

Periksa total penjualan, jumlah transaksi, metode pembayaran, uang tunai, void, refund, diskon, cash in, cash out, serta transaksi pending.

2. Apa penyebab uang kasir bisa selisih?

Penyebabnya bisa berupa kesalahan menghitung uang, salah mencatat pembayaran, pengeluaran tanpa pencatatan, refund, atau transaksi yang belum selesai.

3. Apakah pembayaran QRIS harus langsung masuk ke rekening saat closing?

Belum tentu. Dana non-tunai bisa mengikuti jadwal settlement dari penyedia layanan pembayaran. Karena itu, laporan transaksi perlu diperiksa secara terpisah dari mutasi rekening.

4. Siapa yang bertanggung jawab menyetujui closing kasir?

Umumnya, supervisor atau penanggung jawab shift melakukan pemeriksaan dan approval sesuai kebijakan restoran.

Kesimpulan

Closing kasir yang rapi membantu restoran memahami kondisi penjualan sekaligus memastikan setiap pembayaran memiliki catatan yang jelas. Pemeriksaan total sales, payment breakdown, expected cash, hingga transaksi pending sebaiknya menjadi rutinitas setiap pergantian shift.

Namun, ketika transaksi semakin banyak dan outlet bertambah, pencatatan manual bisa menyita waktu. Risiko kesalahan juga meningkat jika data tersebar di berbagai dokumen.

Dengan dukungan sistem POS, laporan closing kasir restoran bisa lebih mudah diperiksa dan ditelusuri. Kamu bisa mempertimbangkan ESB POS untuk mendukung pengelolaan transaksi serta operasional kasir restoran secara lebih praktis.

Kenali solusi dan fitur yang tersedia melalui ESB POS. Dengan pencatatan yang lebih teratur, tim bisa mengurangi pekerjaan berulang dan punya lebih banyak waktu untuk fokus pada pelayanan pelanggan.

ESB

Ruko Paramount Center II Blok B/8,
Jl. CBD Gading Serpong, Tangerang 15810

150358

(08.30 - 18.00) GMT+7

InstagramFacebookTikTokLinkedInEmail
Copyright 2026 © PT. Esensi Solusi Buana