Strategi mengembangkan produk retail dan non dine in dilakukan saat brand sudah memiliki basis pelanggan setia yang kuat dan operasional outlet yang stabil.
Layanan fulfillment bisnis F&B secara tak langsung mulai menjadi topik diskusi bersamaan dengan rencana memperluas model bisnis ke kanal retail.
Strategi ini dipilih untuk memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kunjungan fisik di outlet.
Transisi ini membawa perubahan dinamika bisnis yang tidak hanya berfokus pada proses produksi untuk kebutuhan harian outlet, melainkan juga distribusi produk ke berbagai kanal luar.
Pada tahap awal, banyak pemilik brand yang menangani semua proses ini secara mandiri dengan memberdayakan staf dan ruang outlet yang tersedia.
Namun, seiring berjalannya waktu, dualisme peran inilah yang kerap menjebak pemilik brand dalam kerumitan operasional.
Jika demikian, apakah operasional bisnis masih mampu ditangani oleh internal dan perlu mulai memikirkan fulfillment produk makanan dan minuman?
Tantangan Umum Bisnis F&B yang Mulai Berkembang
Ketika penjualan produk retail mulai berjalan rutin, tantangan yang muncul umumnya bukan karena kesalahan operasional melainkan konsekuensi alami dari pertumbuhan bisnis.
1. Outlet Berfungsi Ganda
Umumnya, brand F&B akan memanfaatkan outlet yang ada sebagai pusat produksi sekaligus tempat penyimpanan dan pengiriman produk retail.
Akibatnya, area yang seharusnya menjadi dapur produksi mulai bercampur dengan tumpukan kardus, gulungan bubble wrap, dan stok produk seperti frozen food atau packaged food.
Dualitas fungsi ini berisiko mengacaukan alur kerja staf dapur. Fokus tim menjadi terpecah antara mengurus produksi makanan dan minuman untuk pelanggan yang dine-in atau mengemas dan mengirim produk untuk pelanggan non-dine-in.
2. Kompleksitas Manajemen Produk
Produk makanan dan minuman adalah komoditas yang sensitif karena memiliki masa kedaluwarsa.
Melansir DCL, pengiriman produk F&B harus sampai ke tangan konsumen jauh sebelum tanggal kedaluwarsanya untuk menjamin kelayakan konsumsi.
Hal ini memerlukan sistem manajemen inventaris yang mampu mencocokkan setiap SKU dengan tanggal kedaluwarsa secara presisi, serta menerapkan strategi FIFO (First In, First Out).
Mengelola kerumitan stok ini secara manual di tengah kesibukan outlet tentu menjadi tantangan berat bagi brand F&B.
3. Pengiriman Mulai Menyita Fokus dan Waktu Tim
Seiring bertambahnya pesanan retail, aktivitas pengiriman tidak lagi bersifat sesekali. Proses pengepakan dan koordinasi pengiriman mulai menjadi bagian dari rutinitas harian. Akibatnya, sumber daya manusia di outlet harus merangkap tugas.
Tim yang seharusnya fokus memberikan pelayanan maksimal ke tamu yang datang, justru terpecah ikut membantu packing produk dari pesanan yang masuk melalui situs atau aplikasi.
Baca juga: Dari Outlet ke Produk Retail FnB: Kenali Strateginya!
Skala Bisnis F&B Perlu Dibarengi dengan Strategi Fulfillment
Dalam konteks bisnis food & beverage, fulfillment mencakup serangkaian proses seperti penyimpanan stok di gudang khusus, pengelolaan stok, pengemasan, hingga pengiriman.
Strategi ini menerapkan manajemen inventaris yang lebih sensitif dengan mempertimbangkan suhu, kelembapan, dan masa kedaluwarsa guna menjaga kualitas dan keamanan produk sampai ke tangan konsumen.
Mengutip ShipBob, salah satu brand fulfillment global, EZ Bombs, mengalami lonjakan volume pesanan setelah produk bumbu rempah mereka viral.
Awalnya, terdapat 10 karyawan yang bertugas mengambil dan mengemas pesanan. Setiap bulan, waktu yang dihabiskan untuk memenuhi pesanan sebanyak 1.600 jam.
Kemudian, CEO EZ Bombs memanfaatkan layanan food and beverage fulfillment untuk mengambil alih tugas tersebut.
Dampaknya, tim EZ Bombs berhasil menghemat banyak waktu dan memfokuskannya pada pertumbuhan bisnis yang lebih strategis.
Kasus tersebut memberikan contoh bagaimana fulfillment membantu brand F&B memisahkan operasional produksi dan distribusi secara efisien.
Indikator yang Menandai Fulfillment Bisnis F&B Mulai Relevan
Tidak semua brand F&B yang menjual produk retail langsung membutuhkan layanan fulfillment di hari pertama.
Terdapat beberapa fase bisnis tertentu yang menjadi sinyal kuat bahwa operasional produksi dan distribusi Anda harus memiliki batas yang jelas.
1. Produk F&B Rutin Menjual Produk Non-dine-in
Sinyal pertama muncul ketika produk seperti frozen food, makanan kemasan, minuman botolan, hingga merchandise telah terjual rutin di luar outlet.
Pada fase ini, produksi tidak lagi hanya menyesuaikan kebutuhan harian outlet, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan stok untuk distribusi luar outlet.
Jika stok retail masih sering habis atau justru mengganggu porsi bahan baku di dapur utama, itu tanda sistem operasional Anda butuh pemisahan.
2. Menerima Order Lebih dari Satu Kanal
Saat ini, banyak brand F&B yang dapat dipesan dari berbagai kanal baik itu marketplace, situs, atau aplikasi.
Kondisi ini menuntut strategi pemenuhan pesanan yang mampu menjaga pengalaman pelanggan tetap konsisten di setiap kanal.
Awalnya mungkin pengelolaan pesanan dari multikanal masih bisa ditangani secara manual.
Namun, peningkatan pesanan yang terus berdatangan secara bersamaan dapat meningkatkan human error yang berpengaruh pada kepuasan pelanggan.
3. Ruang Penyimpanan Semakin Menipis
Jika operasional produksi dan distribusi masih menjadi satu, lama-kelamaan Anda akan merasakan ruang penyimpanan outlet semakin menipis karena harus menyimpan stok produk non-dine-in.
Situasi ini sering kali membuat pemantauan stok menjadi sulit, khususnya ketika produk semakin bervariasi. Pada fase ini, mempertimbangkan gudang untuk bisnis kuliner dapat menjadi langkah yang masuk akal untuk mengatasi keterbatasan ruang.
4. Meningkatnya Frekuensi Pengiriman
Frekuensi pengiriman produk retail F&B yang semakin rutin dan berulang, bahkan hingga luar kota, akan menambah kompleksitas distribusi.
Pengaturan jadwal pengambilan pesanan oleh berbagai kurir tentunya membutuhkan koordinasi ekstra bagi tim internal untuk memastikan pengiriman berjalan lancar.
5. Tim Operasional Kewalahan
Salah satu indikator paling nyata adalah ketika tim operasional mulai kewalahan menangani berbagai aktivitas di dalam dan luar outlet.
Jika Anda terlalu lama membiarkan tim yang sama menangani proses produksi, penyimpanan, manajemen stok, pengemasan, hingga pengiriman, risiko terburuknya adalah penurunan kinerja.
Peran Fulfillment Bisnis F&B untuk Operasional yang Efisien
Bagi Anda yang merasa operasional bisnis F&B sudah mulai menunjukkan indikator-indikator di atas, mungkin ini saatnya mempertimbangkan solusi fulfillment profesional seperti Biteship.
Fulfillment ini hadir sebagai solusi untuk membantu memisahkan aktivitas produksi dan distribusi di outlet.
Penyimpanan stok produk makanan dan minuman akan tersusun rapi di gudang khusus sambil menerapkan sistem SKU agar masa kedaluwarsa terpantau ketat.
Selain itu, layanan ini juga dapat memproses order dari berbagai kanal, melakukan pengemasan, serta mengatur pengiriman produk makanan dan minuman dengan akses jasa ekspedisi terpercaya.
Masih Sanggup atau Mulai Kewalahan Mengurus Brand F&B?
Pertumbuhan bisnis F&B ke ranah retail seharusnya menjadi kesempatan untuk mengembangkan bisnis lebih luas, alih-alih menjadi beban yang memberatkan operasional outlet.
Volume pesanan yang melonjak, frekuensi pengiriman yang sering, hingga kompleksitas manajemen stok bisa Anda jadikan sebagai pertimbangan. Apakah operasional internal masih optimal menanggungnya sendiri, atau mulai membutuhkan layanan fulfillment agar lebih efisien.
*Artikel ini merupakan hasil kolaborasi antara Biteship dan ESB.
